Kamis, 07 Mei 2015

Kebaikan yang melemah ditengah kejahiliyahan yang semakin menguat, serta upaya mempertahankan idealisme diri

Renungan...
Saya sebagai salah satu pelaksana dakwah yang telah berkomitmen untuk menyerukan kebaikan kepada masyarakat hampir-hampir putus asa dalam perjalanan. Hal ini akan saya sampaikan melalui tulisan ini dimana ini merupakan hasil  perenungan saya yang menilai bahwa saat ini kerusakan seperti semakin parah, semakin unggul keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.
Ketika saya baru saja memahami filosofis terdalam dari makna syahadat yang sampai pada prinsip yang saya tangkap ialah ketundukan Mutlak kepada Ilahi Rabbi yaitu dengan melaksanakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya tanpa terkecuali, yang kemudian pada operasionalnya mengharuskan saya berperan dalam upaya perbaikan masyarakat, sesuai hukum sunatullahnya, saya terus memikirkan bagaimana saya bisa melakukan perbaikan di muka bumi. Kemudian saya menemukan bahwa melalui peran karir dan berorganisasi dengan orang yang satu visi memperbaiki masyarakat hal itu yang bisa menjadi jalan saya untuk melaksanakan perintah perbaikan masyarakat.
Dalam perjalanannya, saya merasa gelisah ketika saya memperhatikan tiap kerusakan yang ada. Hampir setiap hari saya menemukan pemberitaan melalui media sosial yang disana menunjukkan semakin parahnya kerusakan yang ada. Definisi kerusakan yang saya maksud disini bisa dimaknai umum sebagai pelanggaran terhadap nilai atau aturan yang seharusnya, seperti  aksi kriminalitas yang caranya semakin meresahkan, kejahatan seksual anak di bawah umur, korupsi pejabat pemerintah, dan lain sebagainya. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman saya, kami mencoba merenungi bersama kerusakan yang ada melalui salah satu saja media pemberitaan, yakni koran, saat itu saya tinggal di sebuah asrama yang berlangganan harian Jawa Pos, kemudian ketika kami diskusikan kami menyimpulkan bahwa ternyata kerusakan yang ada di masyarakat sangat mengakar, dimulai dari orang-orang kelas bawah sampai pejabat yang memiliki pangkat tinggi di negara. Orang-orang kelas bawah melakukan tindakan kriminal tak jarang motifnya didasarkan pada motif ekonomi, sementara pejabat tingkat atas melakukan korupsi yang berdampak pada kerusakan diberbagai aspek masyarakat. Permasalahan lain yang lebih besar seperti eksploitasi alam oleh asing (perjanjian kerjasama yang merugikan), kerusakan moral akibat kuatnya pengaruh nilai-nilai liberalisme yang dibawa barat sementara saya melihat banyak remaja seusia saya yang sangat menikmati budayanya, konflik antar pejabat pemerintahan yang menjadi tupuan rakyat, dan lain sebagainya...
Ketika memikirkan permasalahan-permasalahan tersebut kadang membuat saya ragu apakah mungkin masih bisa memperbaikinya?
Tentu perintah Tuhan harus tetap dijalankan. Permasalahan besar pun harus dihadapi oleh orang-orang yang memahami perintah Tuhan untuk memperbaiki masyarakat. Namun di sisi lain kadang membuat saya semakin ragu. Ketika saya melihat kerusakan semakin parah terjadi di masyarakat, sementara umat islam yang diperintahkan menegakkan amar makruf nahi mungkar sendiri terjebak dalam permasalahan internal pribadinya sendiri juga konflik dengan sesama umat islam lainnya.
Saya melihat di lingkungan saya sendiri, terjadi penurunan motivasi dalam mewujudkan upaya perbaikan. Bukan hanya penurunan motivasi yang terjadi, beberapa dari orang di lingkungan saya ini pun menjadi aktor dari kerusakan itu sendiri, pergaulan yang melanggar batas, korupsi dana perjuangan, dan lain sebagainya, sementara penurunan motivasi saya menilai dari kurangnya totalitas orang-orang dilingkungan saya dalam berperan melakukan perbaikan dimana kadang disebabkan hawa nafsu juga pengaruh nilai-nilai keluargaisme juga materialisme yang membuat mereka cenderung  mementingkan diri sendiri atau keluarga daripada kepentingan peran secara totalitas di organisasi. Saya mengakui saya pun pernah terjebak dalam keadaan demikian, saya mendeteksi terjadi penuruan semangat menegakkan kebaikan dalam diri saya dengan saya yang terbawa lingkungan dimana saya mulai terjebak paradigma waktu luang sehingga saya banyak menggunakan waktu untuk menonton film dengan jumlah waktu yang berlebihan, main games, atau bermalas-malasan juga melakukan kegiatan kurang produktif lainnya. Padahal sebagai seorang yang mengaku berjuang dalam upaya mewujudkan perbaikan masyarakat, seharusnya tidak ada paradgima waktu luang di dalam pikirannya. Seharusnya waktu yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya saat itu, melakukan riset-riset, mengamati, untuk menemukan inovasi teknologi yang bisa digunakan untuk alat perjuangan. Kalaupun jenuh. Lelah, waktu istirahat dipergunakan sebaik-baiknya untuk merefresh kembali keadaan fisik maupun jiwa dengan kadar waktu yang sewajarya, tidak berlebihan. Saat itu saya menganggap terjadi penurunan kualitas berjuang dalam diri saya. Dan yang lebih menyedihkan saya menemukan kondisi demikian yang intens dan banyak terjadi pada orang-orang di lingkungan sekitar saya.
Di lingkungan masyarakat yang lebih luas pun saya melihat orang-orang yang menegakkan nilai kebaikan, memperbaiki lingkungan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan yang melakukan perbaikan. Orang-orang yang peduli membantu orang miskin sangat sedikit dibanding orang-orang yang acuh, individualis, memilih memuaskan hawa nafsunya sendiri dibandingkan memikirkan nasib masyarakat. .
Mungkin saat ini saya atau beberapa dari pembaca belum terlibat menjadi aktor yang banyak berbuat kerusakan, namun ke depan bisa saja kita menjadi aktor yang ikut terjebak melakukan kerusakan yang besar karena kuatnya pengaruh lingkungan mempengaruhi kita. Karena kuatnya pengaruh lingkungan itu tidak menjamin kita masih tetap lurus di kemudian hari, maka dari itu tulisan ini coba saya hadirkan untuk membentengi kembali keimanan, prinsip ketakwaan kita dalam menghadapi lingkungan yang kian meresahkan.
Solusi besarnya memang kita perlu menciptakan lingkungan yang baik, yakni dengan memperbaiki masyarakat itu sendiri secara bersama-sama dan sungguh-sungguh. Namun untuk solusi bagi kita sendiri agar kita tidak terjebak dalam pengaruh lingkungan dan tetap bertahan dengan nilai-nilai perbaikan masyarakat, beberapa hal ini yang saya ingin berbagi dengan pembaca.
Pertama, Banyak-banyak melakukan perenungan, penghayatan.. menurut saya, di tiap harinya kita perlu meluangkan waktu beberapa menit atau jam untuk sekedar melepaskan diri dari rutinitas, dan mulai menyendiri di lingkungan yang kondusif untuk memikirkan kembali hakikat keberadaan kita, hakikat penciptaan alam semesta, dan maksud adanya kehidupan yang diciptakan Tuhan. Dengan begitu kita bisa menjaga kesadaran kita akan hakikat keberadaan diri kita di bumi ini. Teknis untuk melakukan ini bisa dengan melakukan doa yang agak lama (jika sedang tidak dalam kesibukan) sehabis sholat fardhu, atau menyengajakan diri untuk tahajud. Teknis lain yang biasanya saya gunakan yaitu dengan mendengarkan lagu-lagu islami, lagu-lagu tentang keTuhanan dimana walaupun sedang sibuk (seperti saya mengerjakan tugas kuliah) namun bisa melakukan perenungan ketika mulai lelah berhenti sebentar sambil mendengarkan lagu islami tersebut kemudian mencoba memaknai tiap bait perkataannya. Teknis ini menurut saya paling mudah, tidak memakan banyak waktu untuk hal lebih produktif mengerjakan pekerjaan.
Kedua, ciptakan lingkungan terkecil disekitar kita sebagai lingkungan yang terkondisikan nilai-nilai perjuangan. Seperti saya yang masih tinggal di asrama mahasiswa ini saya mencob di lingkungan terkecil saya, yakni ruangan dalam asrama, mencoba membuat mading-mading pengondisian, sticky notes yang bertuliskan ayat-ayat Allah, perintah Allah, janji Allah, dan kata-kata motivasi spiritual lain yang bisa mengingatkan kembali hakikat keberadaan kita sebagai pejuang yang dperintahkan menegakkan perbaikan di masyarakat. Hal – hal lain yang bisa juga dilakukan yakni dengan melakukan diskusi-diskusi kecil yang mengajak melakukan perenungan atau penghayatan akan kejadian aktual yang ada. Seperti tentang berita-berita aktual yang ada di media massa, bisa coba didiskusikan akar penyebab permasalahannya sambil menyadari kembali adabya realitas kerusakan yang demikian. Menciptakan pengondisian di lingkungan terkecil kita yang kuat akan nilai-nilai perjuangan, hal itu bisa membuat perilaku kita tetap terjaga dan berpikir kita tetap terarah untuk perjuangan.
Ketiga, membiasakan diri selalu dalam keadaan rasional dalam menyikapi segala stimulus lingkungan. Pembiasaan diri untuk selalu menggunakan pemikiran dalam memahami maupun merespon stimulus lingkungan itu sangat perlu. Manfaatnya sangat terasa dimana ketika kita senantiasa menggunakan pemikiran dalam menghadapi stimulus lingkungan, kita bisa secara sadar memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan serta bagaimana cara yang tepat menyikapi lingkungan yang demikian. Ketika kita senantiasa rasional dalam menyikapi stimulus lingkungan, kita bisa mempertimbangkan apa-apa yang mesti kita lakukan terhadap stimulus lingkungan tersebut baik dari nilai lingkungan tersebut mengandung nilai-nilai apa yang ditawarkan, dampak positif negatif apabila kita bersikap tertentu dalam menghadapi lingkungan, serta sikap yang seperti apa yang seharusnya kita berikan terhadap stimulus lingkungan tersebut. Hal ini juga sedang dalam proses pembiasaan diri saya, dimana saya sendiri sebagai penulis merasa kesulitan membiasakan diri untuk senantiasa rasional dalam menyikapi lingkungan, hal tersebut dikarenakan ego atau hawa nafsu yang kadang menjadi penghambat kebiasaan untuk bersikap rasional dalam menyikapi stimulus lingkungan. Meskipun sulit, hal tersebut harus selalu dibiasakan. Harena apabila tidak, berarti kebalikannya, kita akan senantiasa menggunakan perasaan, hawa nafsu, dalam merespon stimulus lingkungan. Jika demikian bukan kebaikan yang menjadi dampak dari respon perilaku kita, melainkan musibah bagi kita sendiri bahkan orang banyak.
Kelima, berteman dengan orang shaleh. Upaya mempertahankan idealisme diri dengan cara berteman dengan orang shaleh terinspirasi dari QS. Al Ashr ayat 2-3,
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keruugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh  dan nasehat-menasehati supaya mentaati  kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran
Dari ayat tersebut bisa ditangkap, hal yang bisa membuat manusia terhindar dari kerugian yakni ketika manusia beriman dan beramal shaleh, kemudian dlanjutkan dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Yang saya tangkap dari sini apabila kita sudah beriman dan beramal shaleh, maka kita perlu bertahan dan konsisten dalam keimanan dan keshalehan, yakni dengan berteman dengan orang shaleh, dimana definisi orang shaleh yang dimaksudkan disini ialah orang yang juga memahami visi perbaikan masyarakat sebagai suatu wujud ketundukan mutlak kepada Allah Swt. Dengan berteman dengan orang shaleh, kita bisa senantiasa saling mengingatkan satu sama lain agar tetap konsisten dalam jalan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dengan begitu ketika kita sedang lemah atau teman kita sedang lemah dalam berjalan menegakkan perintah Allah, kita bisa saling menasihati agar tetap mentaati perintah Allah dan sabar dalam menegakkan perintah Allah. Fungsi berteman dengan orang shaleh bisa semakin menguatkan, mengokohkan langkah kita dalam upaya menegakkan kebenaran yakni mewujudkan visi perbaikan masyarakat sebagai perintah dari Allah SWt. Maka bagi saya berteman dengan orang shaleh merupakan cara yang juga harus dilakukan agar kita bisa senantiasa menjaga idealisme diri dalam berjuang menegakkan kebaikan di masyarakat.
Demikian yang bisa saya bagikan kepada pembaca, semoga tulisan ini bisa sedikit memberi inspirasi bagi kita yang ingin sama-sama ingin menjaga idealisme diri agar tetap lurus dalam usaha mewujudkan visi melakukan perbaikan masyarakat.