Renungan...
Saya sebagai salah satu pelaksana dakwah
yang telah berkomitmen untuk menyerukan kebaikan kepada masyarakat
hampir-hampir putus asa dalam perjalanan. Hal ini akan saya sampaikan melalui
tulisan ini dimana ini merupakan hasil
perenungan saya yang menilai bahwa saat ini kerusakan seperti semakin
parah, semakin unggul keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.
Ketika saya baru saja memahami filosofis
terdalam dari makna syahadat yang sampai pada prinsip yang saya tangkap ialah
ketundukan Mutlak kepada Ilahi Rabbi yaitu dengan melaksanakan segala
perintahNya dan menjauhi segala laranganNya tanpa terkecuali, yang kemudian
pada operasionalnya mengharuskan saya berperan dalam upaya perbaikan
masyarakat, sesuai hukum sunatullahnya, saya terus memikirkan bagaimana saya
bisa melakukan perbaikan di muka bumi. Kemudian saya menemukan bahwa melalui
peran karir dan berorganisasi dengan orang yang satu visi memperbaiki
masyarakat hal itu yang bisa menjadi jalan saya untuk melaksanakan perintah
perbaikan masyarakat.
Dalam perjalanannya, saya merasa gelisah
ketika saya memperhatikan tiap kerusakan yang ada. Hampir setiap hari saya
menemukan pemberitaan melalui media sosial yang disana menunjukkan semakin parahnya
kerusakan yang ada. Definisi kerusakan yang saya maksud disini bisa dimaknai
umum sebagai pelanggaran terhadap nilai atau aturan yang seharusnya,
seperti aksi kriminalitas yang caranya
semakin meresahkan, kejahatan seksual anak di bawah umur, korupsi pejabat
pemerintah, dan lain sebagainya. Saya pernah berdiskusi dengan salah satu teman
saya, kami mencoba merenungi bersama kerusakan yang ada melalui salah satu saja
media pemberitaan, yakni koran, saat itu saya tinggal di sebuah asrama yang
berlangganan harian Jawa Pos, kemudian ketika kami diskusikan kami menyimpulkan
bahwa ternyata kerusakan yang ada di masyarakat sangat mengakar, dimulai dari
orang-orang kelas bawah sampai pejabat yang memiliki pangkat tinggi di negara. Orang-orang
kelas bawah melakukan tindakan kriminal tak jarang motifnya didasarkan pada
motif ekonomi, sementara pejabat tingkat atas melakukan korupsi yang berdampak
pada kerusakan diberbagai aspek masyarakat. Permasalahan lain yang lebih besar
seperti eksploitasi alam oleh asing (perjanjian kerjasama yang merugikan), kerusakan
moral akibat kuatnya pengaruh nilai-nilai liberalisme yang dibawa barat
sementara saya melihat banyak remaja seusia saya yang sangat menikmati
budayanya, konflik antar pejabat pemerintahan yang menjadi tupuan rakyat, dan
lain sebagainya...
Ketika memikirkan
permasalahan-permasalahan tersebut kadang membuat saya ragu apakah mungkin
masih bisa memperbaikinya?
Tentu perintah Tuhan harus tetap
dijalankan. Permasalahan besar pun harus dihadapi oleh orang-orang yang
memahami perintah Tuhan untuk memperbaiki masyarakat. Namun di sisi lain kadang
membuat saya semakin ragu. Ketika saya melihat kerusakan semakin parah terjadi
di masyarakat, sementara umat islam yang diperintahkan menegakkan amar makruf
nahi mungkar sendiri terjebak dalam permasalahan internal pribadinya sendiri juga
konflik dengan sesama umat islam lainnya.
Saya melihat di lingkungan saya sendiri,
terjadi penurunan motivasi dalam mewujudkan upaya perbaikan. Bukan hanya
penurunan motivasi yang terjadi, beberapa dari orang di lingkungan saya ini pun
menjadi aktor dari kerusakan itu sendiri, pergaulan yang melanggar batas,
korupsi dana perjuangan, dan lain sebagainya, sementara penurunan motivasi saya
menilai dari kurangnya totalitas orang-orang dilingkungan saya dalam berperan
melakukan perbaikan dimana kadang disebabkan hawa nafsu juga pengaruh
nilai-nilai keluargaisme juga materialisme yang membuat mereka cenderung mementingkan diri sendiri atau keluarga
daripada kepentingan peran secara totalitas di organisasi. Saya mengakui saya
pun pernah terjebak dalam keadaan demikian, saya mendeteksi terjadi penuruan
semangat menegakkan kebaikan dalam diri saya dengan saya yang terbawa
lingkungan dimana saya mulai terjebak paradigma waktu luang sehingga saya
banyak menggunakan waktu untuk menonton film dengan jumlah waktu yang
berlebihan, main games, atau bermalas-malasan juga melakukan kegiatan kurang
produktif lainnya. Padahal sebagai seorang yang mengaku berjuang dalam upaya
mewujudkan perbaikan masyarakat, seharusnya tidak ada paradgima waktu luang di
dalam pikirannya. Seharusnya waktu yang ada digunakan sebaik-baiknya untuk
melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya saat itu, melakukan riset-riset,
mengamati, untuk menemukan inovasi teknologi yang bisa digunakan untuk alat
perjuangan. Kalaupun jenuh. Lelah, waktu istirahat dipergunakan sebaik-baiknya
untuk merefresh kembali keadaan fisik maupun jiwa dengan kadar waktu yang sewajarya,
tidak berlebihan. Saat itu saya menganggap terjadi penurunan kualitas berjuang
dalam diri saya. Dan yang lebih menyedihkan saya menemukan kondisi demikian
yang intens dan banyak terjadi pada orang-orang di lingkungan sekitar saya.
Di lingkungan masyarakat yang lebih luas
pun saya melihat orang-orang yang menegakkan nilai kebaikan, memperbaiki
lingkungan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan yang melakukan perbaikan. Orang-orang
yang peduli membantu orang miskin sangat sedikit dibanding orang-orang yang
acuh, individualis, memilih memuaskan hawa nafsunya sendiri dibandingkan
memikirkan nasib masyarakat. .
Mungkin saat ini saya atau beberapa dari
pembaca belum terlibat menjadi aktor yang banyak berbuat kerusakan, namun ke
depan bisa saja kita menjadi aktor yang ikut terjebak melakukan kerusakan yang
besar karena kuatnya pengaruh lingkungan mempengaruhi kita. Karena kuatnya
pengaruh lingkungan itu tidak menjamin kita masih tetap lurus di kemudian hari,
maka dari itu tulisan ini coba saya hadirkan untuk membentengi kembali
keimanan, prinsip ketakwaan kita dalam menghadapi lingkungan yang kian
meresahkan.
Solusi besarnya memang kita perlu
menciptakan lingkungan yang baik, yakni dengan memperbaiki masyarakat itu
sendiri secara bersama-sama dan sungguh-sungguh. Namun untuk solusi bagi kita
sendiri agar kita tidak terjebak dalam pengaruh lingkungan dan tetap bertahan
dengan nilai-nilai perbaikan masyarakat, beberapa hal ini yang saya ingin
berbagi dengan pembaca.
Pertama, Banyak-banyak melakukan perenungan,
penghayatan.. menurut saya, di tiap harinya kita perlu meluangkan waktu
beberapa menit atau jam untuk sekedar melepaskan diri dari rutinitas, dan mulai
menyendiri di lingkungan yang kondusif untuk memikirkan kembali hakikat
keberadaan kita, hakikat penciptaan alam semesta, dan maksud adanya kehidupan
yang diciptakan Tuhan. Dengan begitu kita bisa menjaga kesadaran kita akan
hakikat keberadaan diri kita di bumi ini. Teknis untuk melakukan ini bisa
dengan melakukan doa yang agak lama (jika sedang tidak dalam kesibukan) sehabis
sholat fardhu, atau menyengajakan diri untuk tahajud. Teknis lain yang biasanya
saya gunakan yaitu dengan mendengarkan lagu-lagu islami, lagu-lagu tentang
keTuhanan dimana walaupun sedang sibuk (seperti saya mengerjakan tugas kuliah)
namun bisa melakukan perenungan ketika mulai lelah berhenti sebentar sambil
mendengarkan lagu islami tersebut kemudian mencoba memaknai tiap bait
perkataannya. Teknis ini menurut saya paling mudah, tidak memakan banyak waktu
untuk hal lebih produktif mengerjakan pekerjaan.
Kedua,
ciptakan lingkungan
terkecil disekitar kita sebagai lingkungan yang terkondisikan nilai-nilai
perjuangan. Seperti saya yang masih tinggal di asrama mahasiswa ini saya mencob
di lingkungan terkecil saya, yakni ruangan dalam asrama, mencoba membuat
mading-mading pengondisian, sticky notes
yang bertuliskan ayat-ayat Allah, perintah Allah, janji Allah, dan kata-kata
motivasi spiritual lain yang bisa mengingatkan kembali hakikat keberadaan kita
sebagai pejuang yang dperintahkan menegakkan perbaikan di masyarakat. Hal – hal
lain yang bisa juga dilakukan yakni dengan melakukan diskusi-diskusi kecil yang
mengajak melakukan perenungan atau penghayatan akan kejadian aktual yang ada. Seperti
tentang berita-berita aktual yang ada di media massa, bisa coba didiskusikan
akar penyebab permasalahannya sambil menyadari kembali adabya realitas
kerusakan yang demikian. Menciptakan pengondisian di lingkungan terkecil kita
yang kuat akan nilai-nilai perjuangan, hal itu bisa membuat perilaku kita tetap
terjaga dan berpikir kita tetap terarah untuk perjuangan.
Ketiga,
membiasakan diri selalu
dalam keadaan rasional dalam menyikapi segala stimulus lingkungan. Pembiasaan
diri untuk selalu menggunakan pemikiran dalam memahami maupun merespon stimulus
lingkungan itu sangat perlu. Manfaatnya sangat terasa dimana ketika kita
senantiasa menggunakan pemikiran dalam menghadapi stimulus lingkungan, kita
bisa secara sadar memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan serta
bagaimana cara yang tepat menyikapi lingkungan yang demikian. Ketika kita
senantiasa rasional dalam menyikapi stimulus lingkungan, kita bisa
mempertimbangkan apa-apa yang mesti kita lakukan terhadap stimulus lingkungan
tersebut baik dari nilai lingkungan tersebut mengandung nilai-nilai apa yang
ditawarkan, dampak positif negatif apabila kita bersikap tertentu dalam
menghadapi lingkungan, serta sikap yang seperti apa yang seharusnya kita
berikan terhadap stimulus lingkungan tersebut. Hal ini juga sedang dalam proses
pembiasaan diri saya, dimana saya sendiri sebagai penulis merasa kesulitan
membiasakan diri untuk senantiasa rasional dalam menyikapi lingkungan, hal
tersebut dikarenakan ego atau hawa nafsu yang kadang menjadi penghambat
kebiasaan untuk bersikap rasional dalam menyikapi stimulus lingkungan. Meskipun
sulit, hal tersebut harus selalu dibiasakan. Harena apabila tidak, berarti
kebalikannya, kita akan senantiasa menggunakan perasaan, hawa nafsu, dalam
merespon stimulus lingkungan. Jika demikian bukan kebaikan yang menjadi dampak
dari respon perilaku kita, melainkan musibah bagi kita sendiri bahkan orang
banyak.
Kelima,
berteman dengan orang
shaleh. Upaya mempertahankan idealisme diri dengan cara berteman dengan orang
shaleh terinspirasi dari QS. Al Ashr ayat 2-3,
“Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam keruugian, kecuali orang-orang yang beriman dan
beramal shaleh dan nasehat-menasehati
supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati dalam kesabaran”
Dari ayat tersebut bisa ditangkap, hal
yang bisa membuat manusia terhindar dari kerugian yakni ketika manusia beriman
dan beramal shaleh, kemudian dlanjutkan dengan saling menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran.
Yang saya tangkap dari sini apabila kita
sudah beriman dan beramal shaleh, maka kita perlu bertahan dan konsisten dalam
keimanan dan keshalehan, yakni dengan berteman dengan orang shaleh, dimana
definisi orang shaleh yang dimaksudkan disini ialah orang yang juga memahami visi
perbaikan masyarakat sebagai suatu wujud ketundukan mutlak kepada Allah Swt. Dengan
berteman dengan orang shaleh, kita bisa senantiasa saling mengingatkan satu
sama lain agar tetap konsisten dalam jalan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Dengan begitu ketika kita sedang lemah atau teman kita sedang lemah dalam
berjalan menegakkan perintah Allah, kita bisa saling menasihati agar tetap
mentaati perintah Allah dan sabar dalam menegakkan perintah Allah. Fungsi
berteman dengan orang shaleh bisa semakin menguatkan, mengokohkan langkah kita
dalam upaya menegakkan kebenaran yakni mewujudkan visi perbaikan masyarakat
sebagai perintah dari Allah SWt. Maka bagi saya berteman dengan orang shaleh
merupakan cara yang juga harus dilakukan agar kita bisa senantiasa menjaga
idealisme diri dalam berjuang menegakkan kebaikan di masyarakat.
Demikian yang bisa saya bagikan kepada
pembaca, semoga tulisan ini bisa sedikit memberi inspirasi bagi kita yang ingin
sama-sama ingin menjaga idealisme diri agar tetap lurus dalam usaha mewujudkan
visi melakukan perbaikan masyarakat.